Masjid Sultan Ahmet, Terkenal Dengan Nama “Blue Musqoe”

Sesudah Perdamaian Zsitvatorok serta penghancuran yang menghancurkan dalam perang 1603-1618 dengan Persia, Sultan Ahmet I, mengambil keputusan untuk membuat satu masjid besar di Istanbul untuk menyatakan kembali kekuasaan Ottoman. Ini akan jadi masjid kekaisaran pertama sepanjang lebih dari empat puluh th.. Sesaat pendahulunya sudah membayar mesjid mereka dengan rampasan perang, Ahmet saya memperoleh dana dari Departemen Keuangan, karna dia belum juga memperoleh kemenangan yang mengagumkan.

Hal tersebut mengakibatkan kemarahan beberapa ulama, pakar hukum Islam. Masjid itu dibuat diatas istana kaisar Byzantium, dimuka basilika Hagia Sophia (pada saat itu, masjid kekaisaran paling utama di Istanbul) serta hippodrome, satu website dengan arti simbolis yang penting karna menguasai cakrawala kota. Dari selatan Beberapa besar pantai selatan masjid terdapat diatas fondasi, kubah Grand Palace tua.

Arsitektur
Masjid Sultan Ahmed mempunyai lima kubah paling utama, enam menara, serta delapan kubah sekunder. Desainnya yaitu puncak dari dua era pembangunan masjid Ottoman. Ini memadukan sebagian elemen Kristen Bizantium dari Hagia Sophia tetangga dengan arsitektur Islam tradisionil serta dipandang jadi masjid besar paling akhir pada periode classic. Arsitek, Sedefkâr Mehmed Ağa, menjadikan satu ide tuannya Sinan, yang mempunyai tujuan untuk ukuran, keagungan serta kemegahan yang mengagumkan.

Interior

Pada tingkat yang lebih rendah serta di tiap-tiap dermaga, interior masjid dilapis dengan lebih dari 20. 000 ubin keramik bergaya İznik buatan tangan, di buat di Iznik (Nicaea kuno) di lebih dari lima puluh design tulip yang berlainan. Ubin pada tingkat yang lebih rendah yaitu design tradisionil, sesaat pada tingkat galeri, desainnya jadi flamboyan dengan representasi bunga, buah serta cemara. Ubin itu di buat dibawah pengawasan master Iznik. Harga yang perlu dibayar untuk tiap-tiap genteng diputuskan berdasar pada ketentuan sultan, sesaat harga genteng biasanya bertambah dari sekian waktu. Mengakibatkan, kwalitas ubin yang dipakai di gedung alami penurunan dengan bertahap. 5

Sisi atas interior didominasi oleh cat biru. Lebih dari 200 jendela kaca patri dengan design rumit terima sinar alami, hari ini dibantu oleh lampu gantung. Ditempat lilin, telur burung unta diketemukan yang ditujukan untuk hindari jaring laba-laba didalam masjid dengan mengusir laba-laba. 6 Dekorasi termasuk juga ayat-ayat dari Alquran, banyak salah satunya di buat oleh Seyyid Kasim Gubari, yang dipandang jadi kaligrafi paling besar pada eranya. Lantai tertutupi dengan karpet, yang disumbangkan oleh umat beriman serta ditukar dengan teratur waktu habis. Banyak jendela yang luas berikan kesan luas. The casements di tingkat lantai dihiasi dengan karya sectile. Tiap-tiap exedra mempunyai lima jendela, sebagian salah satunya buta. Tiap-tiap kubah semi mempunyai 14 jendela serta Kontraktor Kubah Masjid tengah 28 (empat salah satunya buta). Kaca berwarna untuk jendela yaitu hadiah dari Signoria Venesia pada sultan. Beberapa besar jendela berwarna ini saat ini sudah digantikan oleh versus modern dengan sedikit atau tanpa ada faedah artistik.

Elemen terutama dibagian dalam masjid yaitu mihrab, yang terbuat dari marmer berukir halus serta pahatan, dengan ceruk stalaktit serta panel inskripsi ganda di atasnya. Dikelilingi banyaknya jendela. Dinding yang berdekatan disarungkan di ubin keramik. Di samping kanan mihrab yaitu manggis yang kaya raya, atau mimbar, tempat imam berdiri waktu dia mengemukakan khotbahnya ketika doa siang hari pada hari Jumat atau hari-hari suci. Masjid Blue Musqoe ini sudah didesain demikian rupa hingga bahkan juga ketika yang paling ramai, kebanyakan orang di masjid bisa lihat serta mendengar sang imam. 5

Kios kerajaan terdapat di pojok tenggara. Ini terbagi dalam satu basis, loggia serta dua kamar kecil yang pensiun. Ini berikan akses ke logat kerajaan di galeri atas tenggara. Kamar-kamar yang pensiun ini jadi markas besar Wazir Agung sepanjang penindasan Janissary Corps yang memberontak pada th. 1826. Log kerajaan (hünkâr mahfil) di dukung oleh sepuluh kolom marmer. Ini mempunyai mihrab sendiri, yang dipakai untuk dihias dengan jade rose serta emas 7 serta dengan seratus Al Quran pada hias serta disepuh lecterns. 8

Banyak lampu didalam masjid itu sempat tertutupi dengan emas serta permata. 9 Diantara mangkok kaca seorang dapat temukan telur burung unta serta bola kristal. 10 Semuanya hiasan ini sudah dihapus atau dijarah untuk museum.

Tablet besar pada dinding bertuliskan nama khalifah serta ayat-ayat dari Quran. Mereka awalannya oleh kaligrafi raksasa era ke-17 Seyyid Kasim Gubari dari Diyarbakır tetapi sudah berkali-kali dipulihkan. 5

Eksterior

Sisi depan halaman depan yang luas dibuat lewat cara yang sama dengan façade Masjid Süleymaniye, terkecuali menambahkan menara di kubah sudut. Pengadilan itu seluas masjid tersebut serta dikelilingi oleh satu arcade berkubah terus-menerus (revak). Ini mempunyai sarana wudhu di ke-2 sisinya. Air mancur heksagonal tengah kecil relatif pada halaman. Pintu gerbang monumental namun sempit ke halaman menonjol dari arsitektural. Kubahnya yang semi mempunyai susunan stalaktit yang halus, dinobarikkan oleh kubah berusuk kecil diatas satu tholobate tinggi. Sekolah basic historisnya (Sıbyan Mektebi) dipakai jadi ” Pusat Info Masjid ” yang bersebelahan dengan dinding luarnya di bagian Hagia Sophia. Di sinilah mereka berikan pengunjung presentasi orientasional gratis di Masjid Biru serta Islam biasanya. 11

Satu rantai besi berat bergantung dibagian atas pintu masuk pengadilan di bagian barat. Cuma sultan yang diizinkan masuk istana masjid dengan menunggang kuda. Rantai itu ditempatkan disana, hingga sultan mesti turunkan kepalanya setiap waktu dia masuk ke pengadilan untuk hindari pukulan. Ini yaitu isyarat simbolis, untuk menanggung kerendahan hati penguasa dihadapan yang ilahi. 11

Menara
Masjid Sultan Ahmed yaitu satu dari tiga masjid di Turki yang mempunyai enam menara (dua yang lain yaitu Masjid Sabanci modern di Adana serta Hz. Masjid Mikdat di Mersin). Menurut narasi rakyat, seseorang arsitek salah dengar keinginan Sultan untuk ” altin minareler ” (menara emas) jadi ” altı minare ” (enam menara), ketika itu adalah keunikan masjid Ka’bah di Mekkah. Saat dikritik karna anggapannya, Sultan lalu memerintahkan satu menara ke-7 untuk dibuat di masjid Mekah. 12

Menara mesjid.
Empat menara berdiri di pojok Masjid Biru. Semasing menara bergambar pensil ini mempunyai tiga balkon (Called Şerefe) dengan corb stalaktit, sesaat dua yang lain di ujung halaman depan cuma mempunyai dua balkon. Sebelumnya maudzzin atau pemanggil doa mesti menaiki tangga spiral sempit lima kali satu hari untuk menginformasikan seruan untuk sholat. 12

Sekarang ini, satu system pengumuman umum tengah dipakai, serta panggilan itu bisa terdengar di semua sisi kota waktu lalu, disuarakan oleh masjid-masjid beda di sekelilingnya. Kerumunan besar orang Turki serta wisatawan berkumpul waktu matahari tenggelam di taman yang menghadap ke masjid untuk dengarkan seruan doa malam, waktu matahari tenggelam serta masjid diterangi dengan cemerlang oleh lampu sorot berwarna. 12